Saturday, January 14, 2017

Pendekar silat

"Bib, antum kan cucunya Abu Adnan, pasti punya warisan jurus lah sepukul-dua pukul, ajarin dong sama jamaah disini juga"
"Ah, ane gak bisa Ustad, gak pernah diajarin sama kakek ane"

Begitulah obrolan saya tempo hari kepada Habib Muhsin, kawan seperjuangan dakwah saya di beberapa Masjid. Kakek beliau yang bernama Abu Adnan memang terkenal sebagai seorang alim dan soleh dari Pondok Bambu, serta seorang pendekar silat juga.

Untuk santri jakarta tempo dulu, memang bukan sesuatu yang aneh lagi bila ulama-ulama betawi selain alim, soleh, juga ahli bela diri. Sebut saja Habib Ali Lubi, semua orang yang pernah tinggal di Kebon Nanas pasti mengenalnya.

Di Klender ada tokoh pejuang kemerdekaan, kyai, sekaligus pendekar betawi yang disegani, beliau adalah Haji Darip.

Bahkan ulama kharismatik dari Rawa Bunga, yang istiqomah mengajar kitab-kitab arab kepada umat, Habib Abdul Qadir Banahsan, beliau juga seorang pendekar silat tiada tanding.

Itu yang saya sebutkan baru sebatas yang berada di sekitar tempat tinggal saya di Jatinegara. Belum seluruh Jakarta Timur, apalagi seluruh Jakarta.

Sampai sekarang masih kita jumpai santri-santri yang belajar ilmu Qur'an, Hadist, Fiqih, mereka juga diajarkan jurus-jurus silat oleh kyai mereka masing-masing. Selain sebagai olah raga, juga berguna untuk bela diri dan bela agama.

Kok saya jadi cerita tentang silat ya? Ini sekedar berbagi aja, sekarang banyak orang sok jagoan nantang berkelahi santri sarungan. Dikiranya santri itu lemah. Salah-salah dia sendiri yang babak belur.

Asal jangan nanti sudah terlanjur malu babak belur dalam pertarungan satu lawan satu, terus ngaku dikeroyok sepuluh orang. Hehehe.

Salam Hijrah.
⏰ Waktunya bangun dan berubah dari tidur panjang kita!