Sunday, November 27, 2016

Berbeda itu menguatkan

"I am most likely to visit u in December" sebuah pesan masuk ke handphone saya. Betapa senangnya saya menerima pesan dari sahabat saya tersebut.

Kunjungannya ke Indonesia ini adalah kunjungan keempat. Dia itu seorang pemuda muslim, tinggal di London, dan bermazhab Hanafi dalam fiqihnya.

Apakah saya merasa kurang nyaman dengannya karena berbeda mazhab? Jelas saja tidak! Saya sangat memuliakan saudara saya tersebut.

Saat di Yaman, salah satu guru kami seorang ulama dari Maroko dan Beliau bermazhab Maliki. Kami sangat mencintai Beliau.

Di seluruh dunia ini tidak ada seorang muslim pun yang mempermasalahkan perbedaan mazhab dalam Islam.

Ketika berkunjung kepada Kyai Abdullah Syafi'i di Jakarta, Buya Hamka didesak oleh Kyai untuk menjadi imam shalat Shubuh, padahal Buya adalah tamu saat itu.

Lalu Buya membaca qunut Shubuh dalam shalatnya, sebagai penghormatannya kepada Kyai yang bermazhab Syafi'i.

Tidakkah saudara merasakan indahnya rasa saling mencintai yang begitu kuat dari kedua ulama ini?

Saya bersyukur akhir-akhir ini umat Islam di seluruh Indonesia tidak merasa tertarik lagi membahas perbedaan. Sebab terbukti Islam menjadi kuat saat bersatu dan bersaudara.

Semangat saling menghormati ini adalah permen yang istimewa, dan justru berawal dari kasus penistaan agama sebagai bungkus permennya.

Mari menjadi bagian Ukhuwah Islamiyah yang sudah sangat sejuk ini.

Salam Hijrah.
⏲ Waktunya bangun dan berubah dari tidur panjang kita!