Salah satu rekanan ibu saya selalu menggunakan cek untuk pembayaran atas barang yang mereka beli. Biasanya saya yang bertugas membantu ibu mengambil cek tersebut ke kantor mereka. Karena itu saya faham sekali cara memperlakukan selembar cek.
Dalam dunia perbankan, selembar cek tidak akan diterima oleh bank jika ada kesalahan penulisan sedikit saja. Cek harus mulus 100 persen. Jika tidak 100, maka sama dengan nol.
Umumnya sebuah kekurangan itu dimaafkan jika hanya sedikit. Jika 90 benar, maka yang sedikit 10 itu dimaafkan. Tapi hal ini tidak berlaku untuk selembar cek.
Mirip seperti shalat atau puasa. Jika Ashar kita hanya 3 rakaat, harusnya sudah 75 persen benar kan ? Tapi tetap saja Allah tidak menerima shalat kita. Begitu pula jika kita sengaja berbuka puasa sepuluh menit sebelum maghrib, artinya puasa kita sudah 99 persen kan ? Tetap saja di sisi Allah dianggap nol.
Masalah iman pun memiliki prinsip seperti ini. Seorang muslim wajib 100 persen beriman kepada hukum-hukum Al-Quran. Jika 99 hukum Al-Quran itu diyakini, hanya 1 yang ditolak, tetap saja Allah tidak menerima keseluruhan keimanannya. Na'uzubillah.
Banyak orang yang menerima seluruh hukum Al-Quran kecuali satu, dia tidak terima hukum yang mengharamkan zina. Wah jangan sampai terjadi begini, karena nila setitik rusak iman sebelanga. Na'uzubillah.
Lebih banyak lagi orang yang meyakini seluruh aturan Al-Quran kecuali satu, yaitu dia tidak mengimani aturan mengenai memilih pemimpin muslim. Ini juga jangan sampai terjadi. Karena bank tidak menerima cek yang ada kekurangan walaupun sedikit. Na'uzubillah.
Ingatlah Allah hanya menerima iman yang 100 persen. Jika satu saja hukum Allah tidak diimani, maka semuanya akan ditolak.
Salam Hijrah.
⏲ Waktunya bangun dan berubah dari tidur panjang kita!